Jumat, 13 Desember 2013

Koruptor (puisi)



Koruptor
Oleh : Amelia Rizki S. XIIA2. 03

Mengabdi untuk rakyat, katanya

Bekerja demi negara, katanya

Peluh peluh di dahi, capai tiada henti, hanya demi rakyat, katanya


Lalu koran koran pagi berbicara

Menyeruak tentang busuknya orang orang pengabdi negara

Tentang mereka yang makan harta orang orang tak berdosa

Berjuta juta? Lebih. 

Tak penting, lebih sakit hati rakyat yang telah ditipu dan dibohongi


Koran koran pagi berbicara lagi

Berbicara hal yang sama, orang yang berbeda


Dan rakyat pun semakin tak mengerti.

Kamis, 12 Desember 2013

Ini semua tentang teman, pertemanan, dan cara berteman



 Saya teringat sekali dengan nasehat kakak saya dulu, 

                “Kalo cari teman, cari yang baik. Yang bener-bener teman, ngga cuma ada ketika bahagia saja, ngga cuma sebagai teman tertawa (re: kanca ngguyu). Karena biasanya nak, teman yang hanya bisa asik-asik itu ngga bertahan lama. Kalo mereka nemu yang lebih asik, mereka ninggalin kamu. Ngga ada bekas, ngga ada kesan diantara kamu dan mereka.”

Dulu saya berpikir nasehat tersebut tidak seratus persen benar. Toh, anak SMA itu selayaknya cara bertemannya ya seperti ini. Tertawa dan bersenang-senang. Saling curhat? Toh itu masalah pribadi yang tidak terlalu penting juga untuk dimasukkan dalam lingkar pertemanan. Hanya berbagi susah. Ada teman, ya bawaannya happy dong ya.

Tapi ternyata saya salah. Benar benar salah parah. 

Ketika diri saya sedang tidak baik, mereka tidak ada. Padahal saya sungguh haus motivasi, lapar semangat, kekurangan energi untuk bangkit. Ketika saya benar-benar terpuruk, benar-benar dalam fase sakit, mereka tidak disini, menghiburpun tidak. Saya butuh mereka. Tapi nyatanya? Dimana mereka? Kita yang telah menghabiskan banyak waktu untuk tertawa. Lalu apa arti itu semua? *wes mulai alay* wkwk.

Dan ya, itulah akibat saya yang tidak membenarkan nasehat kakak saya tersebut. Saya terlalu mengalir dalam berteman. Terlalu larut hingga saya tak memperhatikan bahwa sebenarnya di sekeliling saya yang lain, iya selain mereka, masih banyak teman yang lebih peduli dengan saya. Yang secara tidak sadar lebih mengerti saya, lebih mengangkat saya ketika saya terjerembab, lebih menopang kaki saya untuk tetap berdiri tegak *alay lagi* wkwk.

Lalu saat itulah. Saat saat getir perubahan haluan pertemanan saya. Oh iya, saya juga sempat hampir tidak terima saat itu. Saya mengadu ke kakak saya. Dan bercerita. Berharap kakakku memberikan nilai ++ untuk saya yang menuruti nasehatnya tersebut. Namun, malah seperti inilah jawaban kakak saya,

“Teman itu memang seperti itu. Temanmu tidak harus selalu menuruti semua kehendakmu. Bukan mereka yang salah. Secara tidak sadar kamupun juga pasti pernah bersikap ke temanmu yang lain seperti itu. Cari teman yang baik, yang benar-benar mengerti kita memang tidak mudah nak. Yang lebih penting sekarang adalah kamunya yang berusaha menjadi teman yang baik, yang mengerti temanmu. Jangan menunggu mereka, jangan memprotes mereka. Kakak yakin temanmu yang itu tak pernah bermaksut seperti itu, mereka peduli tapi dengan cara yang lain. Temanmu semua baik. Hanya setiap orang itu melakukan dan menafsirkannya dengan cara yang berbeda.”

                Dan jawaban kakak saya tersebut benar-benar diluar perkiraan saya :))))))

               
 
catatanku-amelia Blogger Template by Ipietoon Blogger Template