Sabtu, 29 Desember 2012

Andai Aku Cantik


‘Cantik itu relative. Namun jelek itu absolut’ – kata Vin terhadap Jo (Berjuta Rasanya, Tere Liye)

                Tertampar habis habisan, pasti. Serasa yang berkata seperti itu sepatutnya saya. Siapa? Iya saya.

                Itu kelemahan saya akhir akhir ini. Menganggap dunia tidak adil. Langit terlalu jahat dalam bertakdir. 

‘Cantik dan jelek, 2 hal yang (katanya) saling melengkapi.’

 Saya tidak menyalahkan, itu seratus persen benar -_- Tapi sayangnya, orang yang berkata seperti menurut pengamatan saya hanya ada 2.

 Pertama, dia adalah orang cantik, yang (ngakunya) tidak mau dibilang cantik. Boleh saja dengan gampangnya dia bilang seperti itu, mempukpuk pundak temannya dan (pura-pura) menghiburnya. Pernyataan itu tak masalah baginya, toh dia yang menjadi sisi baik nya. Dia yang cantik. Urusan sisi lainnya (yang jelek) itu bukan kepentingannya. Coba saja kalo dia yang merasa jelek, mendengar kalimat tersebut pasti nggerus makin menjadi. 

Kedua, adalah orang putus asa nya terlalu parah. Dia akan bilang seperti itu dengan bangganya. Karna settingan otaknya telah benar benar berubah -_- cantik jelek tidak masalah. Namanya juga hidup, enjoy aja. Kurang lebih seperti itu.

Saya tidak bilang saya tidak bersyukur. Hanya saja terkadang saya merasa ‘berbeda’ dengan mereka yang cantik. Cantik dari segi apapun. Saya bisikki sesuatu mau?

Akhir akhir ini saya iri dengan mereka yang cantik. Yang lebih meyakinkan untuk dipandang (¬_¬) . Saya tidak akan berkata seperti itu jikalau cantik tidaknya seseorang tidak berarti apapun. Tapi sayangnya itu berarti. 

                Boleh saya sedikit cerita? Oke, sedikit alay jangan protes ya :D


                Tau tidak? Apapun itu ini berlaku untuk semua perempuan dan laki laki di semua belahan bumi. 

                ‘apresiasi terhadap perempuan (laki laki juga), rupa menjadi pertimbangan. Kejam memang, tapi itu sudah takdir alam’ Amelia- pelajar

                Sedikit meksa tapi itu bermakna benar. Kalo tidak benar, mana mungkin ada teman saya yang tega membalas mention saya dengan se begitu biasanya -_- padahal dengan teman yang lain dia balasnya lebay, penuh emot nggak jelas begitu -_- . Saya kekanak kanak an sekali, tetapi bagaimanapun juga, itu menyebalkan! Saya kan juga temannya, diperlakukan sama dong :’( dan seperti inilah urusan bodoh itu dimulai. Mereka yang mendapat keistimewaan itu adalah mereka yang cantik. Mereka yang berwajah enak dipandang (¬_¬) Mengapa langit seperti ini? Allah pleaseeee… Se cantik apa sih mereka? *plak

                Itu baru satu.

                Yang lain? Ini..
                Urusannya lagi lagi juga di twitter. Taukah kamu? Ada teman saya yang iseng tanya kakak kelas saya, mention seperti ini

                ‘mas kamu punya warung makan namanya ---- ya?’ 

dan dibalas seperti ini

                ‘wah ketahuan, iya dulu tapi sekarang jarang buka, lha ibukku jadi ketua kelompok gabungan tani jadi sering keluar dan ngga ada yang jaga masak’ udah dibalas panjang, curhat minta ampun lagi. 

                Coba saja kalau yang tanya saya, pasti balasnya hanya 

                ‘hooh’  atau kalo engga

                ‘urusanmu?’ atau malah ngga dibalas sama sekali. Fine. Ini tidak adil!

                Terkadang saya muak. Saya tidak menyalahkan mereka. Tidak menyalahkan takdir juga. Saya hanya bersedih pada diri saya sendiri. Saya terlalu lemah memikirkan hal se tidak penting seperti itu haha. Mbangane ra mikir nek kui :p oke. Tapi ya setidak penting apapun itu, itu menyebalkan! (lagi)

                Argumen bodoh saya pun semakin mantap ketika teman saya (Amita) mendukung argumen saya tersebut dengan berkata seperti ini,

                ‘cen hooh mel, biyen nek ana uwong sik nge add aku (fb) tak delok sik, nek kenal yo tak confirm. Nek ra kenal tur foto ne lumayan yo tak confirm. Terus nek ana sik message aku muni – thanks for confirm – yo aku mbales e delok delok wonge, nek apek yo tak bales – sama sama – nek ora yo ora tak bales’  heeeh -___-  amita macam apa -_-

                Semua orang memang dasarnya seperti itu mel. Tidak bisa diubah. Tinggal kamunya bisa menerimanya atau tidak~ #akukudupiye

                Haha tidak penting sama sekali ini. Tapi ini menyangkut perasaan e.Coba kalian yang merasakan itu! Kalian akan merasakan remuk seketika tepat di dada. (kata terakhir diambil dari salah satu komentator ‘berjuta rasanya’) 

***
                Saya juga merasa saya adalah Vin (tokoh ‘berjuta rasanya’) yang menengadah kepada langit, memohon kepada Tuhan. 

                ‘Ya Tuhan, buatlah aku cantik… Aku mohon!’ lalu,
                ‘Atau kalau Kau tidak berkenan membuatku cantik, maka buatlah seluruh wanita di dunia ini sejelek diriku.’

                Doa Vin yang lucu. Tetapi dia benar, dia berdoa seperti itu karena dia ingin diperlakukan sama. Kalo saja orang orang tidak membedakan, dia tidak akan berdoa seperti itu. 

                Tapi biarlah! Itu hanya Vin. Saya sempat terlanjur seperti itu. Tidak! Tidak boleh. Saya bukan Vin! Tetapi saya juga merasakan seperti itu :’( #akukudupiye. Tetapi buat apa juga seperti itu dibuat masalah? 

                Kamu tidak seharusnya bersedih mel. Allah sudah mengatur semuanya. Dan taukah kamu? Hati saya sedikit terbuka dengan kalimat kalimat Tere Liye yang ini,

                ‘Urusan ini sebenarnya amat sederhana. Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relative lebih baik atau lebih buruk.’


               



1 komentar:

 
catatanku-amelia Blogger Template by Ipietoon Blogger Template