Jumat, 27 April 2012

Emosi Kita

            Masa-masa sekolah, apalagi masa SMA merupakan puncak dari segala gejolak emosi atau sering disebut kelabilan.Masa dimana pencarian jati diri berlangsung, ingin mencoba sesuatu yang baru dan berusaha mencapainya selagi ada waktu dan masih muda, katanya.Tapi apa? Kebanyakan para kawula muda ini lebih banyak menggunakan emosi mereka daripada akal sehat yang sepertinya akal sehat itu mulai tidak berlaku disini.Mungkin semboyan ‘kalau tidak begini jangan berharap’ mulai terpupuk di jiwa mereka.Mengandalkan emosi yang menggelora, frontal dan kebanyakan keluar aturan mereka anggap sebagai suatu senjata ampuh untuk menaklukkan sesuatu yang ingin mereka raih.
            Sekali lagi akal sehat tak main disini.Masa labil.Ya! masa labil kadang menjadi alasan naif atas tingkah polah yang mereka lakukan.Para anak labil yang lebih sering menyebut diri mereka dengan istilah ‘cah enom’ (anak muda) bukannya tidak sadar atas ketidakbecusan mereka dalam masalah pengendalian emosi, tapi mereka cenderung menomorsatukan alasan ‘berekspresi’ , mengeluaran segalanya yang mereka rasa harus diungkapkan, ‘ndak ngganjel’ , katanya.
            Tapi sebenarnya tidak sepenuhnya salah jika memang emosi itu perlu dinyalakan.Tentunya dalam catatan hal yang dilakukan adalah hal positif dan memerlukan emosi untuk menjadikannya yang terbaik.Misal belajar.Kalau tanpa niat yang pasti, memulai belajar merupakan sesuatu yang sulit, tanpa emosi membara untuk kesungguhan, belajar hanya sebuah omong kosong.Bayangkan saja jika kita belajar hanya ‘belajar-belajaran’ alias mau mau enggak.Ketercapaian yang kita impikan pun hanya akan terus menjadi mimpi didepan mata kita.Semua itu butuh komitmen, semua itu perlu target.Target tujuan kita belajar itu apa, target waktu yang akan kita taklukkan itu seberapa lama, sekali lagi semua itu butuh perhitungan.Disinilah emosi pantas untuk dilakonkan.Belajar ‘membabibuta’ , mengejar target, jadi inilah arti emosi yang layak dihidupkan.
            Jadi sebenarnya tinggal pandai-pandainya diri kita ‘menyulap’ emosi kita menjadi hal apa.Semua itu ada baik buruknya, emosi bisa saja menjadi hal bermanfaat yang kita butuhkan atau tak dapat dihindari emosi juga bisa menjadi momok dalam diri kita.Keberadaan emosi tak dapat disalahkan, kelabilan tak dapat disesalkan.Itu semua sudah menjadi kodrat dan hanya diri kitalah yang dapat menjadikannya hal positif atau negatif.

1 komentar:

 
catatanku-amelia Blogger Template by Ipietoon Blogger Template