Jumat, 25 Maret 2011

salah jadwal

nah..ini nih.aku mau berbagi pengalamanku kemarin..hari kamis,24 maret 2011
aku sedang menjalani ujian sekolah ( maklum aku kelas 9)..rabu malamnya aku belajar..biasa anak rajin -______- (yaiyalah gila apa usek ga belajar).Hari-hari sebelumnya aku selau tanya sama temanku "eh,besok jadwalnya apa?" soalnya jadwal gue itu ilang (sumpahdeh >,<).Nah,tapi hari itu gue samasekali kagak tanya,di pikiran gue itu IPS sama b.Jawa,IPS sama b.Jawa...lalu belajarlah giat aku iPS,dah pinjam buku kls 7 sama delapan kerumah tetangga segala..nglembur2..puff paginya..teng..teng..dengan senyumsemangat menggelora kutapkkan kakiku di sekolahku tercinta... kuhampiri temen2ku yang lagi pada belajar di kelas.. HAH !!!!!!! ini awal derita gue.. "kenapa pada pegang buku ipa??" "kenapa pada diskusi tentang ipa??" klep klakep..gue diam seribu bahasa,buku temen kubaca..pura2 nimbrung..dan berpikir tidak ada hal bodoh yang terjadi... *sejak detik itu aku baru tau bahwa jadwal jam pertama adalah ipa,sama sekali tidak ada IPS..my god..aku pikir se-Indonesia cuma aku seorang yang dapat berlaku bodoh seperti itu..salah jadwal ujian?? bodohhhhh.. doa aku..semoga kalian2 tidak akan pernah meniru perbuatanku :O nyesel pasti >,<

udah yaaa..tunggu ceritaku berikutnya :)

Sabtu, 19 Maret 2011

Tempe Cinta

ini cerpenku yang pertama kali dapat dihitung berharga..dibaca yaaaa

Di Dalam Tempe Ada Cinta
Kupandangi jingga cakrawala sekian kali.Awan-awan putih dan burung-burung berkicauan menambah kedamaian sore ini.Seperti biasanya, sekitar pukul setengah enam sore sampai bedug maghrib, kumenghabiskan waktu-waktu itu untuk duduk-duduk santai dibalai-balai rumah.Sambil menyelesaikan tugas sekolah atau membantu ibu membungkus tempe yang akan dijual dipasar esok pagi.
“Sudah selesai nak?”.Lamunanku buyar seketika, kumenoleh kearah suara itu.Ibu.Wanita yang telah membesarkanku itu tersenyum kepadaku dan duduk disampingku.
“Sudah, Bu”.Jawabku sambil membereskan sisa-sisa kertas dan daun jati yang sudah tidak terpakai untuk membungkus tempe.
“Lain kali kalau sudah selesai langsung dibawa masuk, jangan ngelamun dulu”.Kata-kata yang baru saja terlontar dari bibir ibu membuatku pekerjaanku terhenti.Aku menoleh ke arah ibu.
“Ibu...”.Aku hanya dapat mengeluh mendengar perkataan ibu.Tetapi, buatku perkataan ibu tersebut adalah sebuah mutiara penyejuk jiwa.Akupun lalu tersenyum.Segera kuselesaikan pekerjaan beres-beresku.Lalu, aku dan ibuku masuk kedalam rumah.Pemandangan yang pertama kali kulihat adalah sebuah lampu 5 watt yang menerangi sebuah meja bundar berukuran besar dibawahnya.Ya, meja itu adalah meja multiguna bagi kami, karena dimeja itulah aku dan keluargaku makan bersama, dimeja itulah ibuku mengolah tempe buatannya, dimeja itu juga aku dan kedua adikku belajar pada malam hari.Ya, meja itu.Meja itulah adalah benda peninggalan ayah yang sangat berarti bagi kami.Semenjak ayahku mengalami kecelakaan maut dua tahun silam, sejak itu juga kami tidak pernah melihat ayah lagi.Selamanya.
“Kak ifiii...!”.Teriak seorang gadis mungil berkucir dua dari arah luar.Ia adalah adik pertamaku.Selisih empat tahun dariku.
“Dek Reni, jangan teriak-teriak.Hayo, ingat perkataan ibu nggak?”.Kucoba menegur adikku tersebut dengan cara sehalus mungkin.Sebetulnya aku sudah terlalu jengkel dengan sikap adikku itu.Kalau memanggil selalu dengan teriakan.Sampai ada orang lewat depan rumah menoleh kerumah kami.Ah, betapa malunya bila kuingat hal itu.Tapi kali ini, ada ibuku, jadi dengan berpura-pura bersikap halus dengan adikku, kuharap ibu berfikir kalau aku adalah kakak yang baik.
“Iya iya..!kak Ifi, besok ada pesta ulang tahun Meydi dirumahnya, dan aku diundangi, kak..”ujar adikku tersebut dengan mata melebar.Aku tahu apa yang akan dia utarakan kepadaku.Apalagi kalau bukan masalah kado.Ya, setiap ada temannya yang mengadakan pesta ulang tahun, pasti jika memikirkan masalah kado, berlarinya ke aku.Biasanya, aku membantu memilih kado dan mengajari membungkusnya dengan cantik.
“Dek Reni, pasti mau tanya masalah kado ya?hem..sudah nabung belum?”
“Belum,kak.Tabungan Reni kan habis untuk membeli tas baru itu..”Jari mungilnya menunjuk sebuah tas berwarna pink yang tergeletak disudut ruang.
“Yah, bagaimana lagi?kakak juga belum punya uang, dik.”
“Kakak...”kata itu akhirnya terlontar juga dari bibir mungilnya.Wajah yang sebelumnya ceria, kini perlahan-lahan sirna.Aku tahu apa yang tengah dirasakan adikku saat ini.Ia pasti sedih sekali..
“Dek, jangan sedih, Allah pasti akan memberikan jalan keluar.”Aku mencoba menghiburnya.Walaupun aku sendiri tahu, perkataanku tadi belum bisa mengobati hati adikku yang sedih.
“Enggak, kak.Aku nggak sedih.”Ucap adikku sembari tersenyum.
***
Sang surya kembali terbangun dari mimpinya.Semburat-semburat jingga mulai terlihat dari ufuk timur.Diriku yangtelah dibangunkan oleh suara ayam-ayam tetangga, segera berwudhu di padhasan.Br.brr..Air padhasan itu telah mengusir peri-peri kantukku.Kurasakan betapa nikmatnya diriku, karena sampai saat ini, aku masih dapat merasakan segarnya air pagi.Setelah selesai berwudhu, aku menapakkan kakiku di sebuah musholla kecil yang tak jauh dari rumahku.Musholla itu kecil, tapi begitu bersih.Bagiku, tiada hari tanpa mengunjungi musholla itu.Selain untuk menjalankan ibadah sholat, musholla itu juga merupakan tempat untuk mengaji.
“Nak Ifi, tolong ingatkan Dek Reni ya..besok jangan lupa untuk datang ke pesta ulang tahunnya Meydi.Tolong ya nak..”ucap seorang ibu dihadapanku.Ya, ibu itu adalah ibunya Meydi.Teman Reni yang besok akan mengadakan pesta ulang tahun.Aku tahu, Reni adalah teman dekatnya Meydi.jadi, tidak heran kalau Meydi memang sangat menginginkan kedatangan Reni.
“Oh, iya buk.Iya tentu.”jawabku dengan nada seceria mungkin.Walaupun sebenarnya aku kurang yakin dengan perkataanku.
“Ya, sudah itu saja.Mari, nak ifi.”
“Mari,buk.”jawabku.Segera kulangkahkan kakiku kerumah.Aku sudah tidak sabar untuk membantu ibu beres-beres tempe yang akan dijual dipasar nanti.Entah karena pekerjaan rutinku tersebut menyenangkan atau memang karena aku yang terlalu sayang dengan ibuku( aku selalu berpikir begitu).
***
“Ifi...”kudengar sebuah suara memanggil namaku.Iya, itu suara ibu.Bergegas kumencari arah suara itu.Di dapur.Oh, tidak.Kulihat ibu terduduk lemas dilantai dapur.Ada darah segar mengalir dari hidung ibu.
“Ya, Allah.Ibu kenapa?kenapa, bu?”Segera ibu kupapah untuk duduk dikursi.Aku bingung mau minta bantuan kepada siapa.Di rumah hanya ada aku dan ibu.Pak Zainal.Iya, pak Zainal ayahnya Meydi.Segera aku keluar rumah.Kutemui ayahnya Meydi sedang mencuci mobilnya.
“Pak, pak Zainal!”ucapku dengan nafas tersengal-sengal karena berlari.Kulihat pak Zainal tersenyum kepadaku, tapi ada pandangan heran dimatanya.
“Oh, nak Ifi.Ada apa, nak?kok seperti ada yang penting banget?”
“Begini, pak.Ibu, ibu sakit.”
“Sakit?sakit apa?”terlihat pak Zainal mengernyitkan keningnya.Belum kusempat menjawab, ibu Meydi, bu Aisyah menyahut.
“Ya, Allah.Sakit apa, nak?ayo pak,cepat kita langsung kerumah nak Ifi saja”
“Iya,ayuk nak, Ifi”kata pak Zainal.
Aku dan kedua orangtua Meydi bergegas kerumah.Setelah melihat keadaan ibu.Orangtua Meydi sepakat untuk membawa ibu ke rumah sakit.Aku hanya pasrah sambil tak henti-hentinya memanjatkan doa untuk keselamatan ibu.
***
“Ibu, ibu kenapa?”kumenangis dihadapan ibuku yang sudah mulai siuman.Kulihat ibu menatapku sampil tersenyum.Aku tak kuasa melihat mata ibu yang teduh.Aku melihat sebuah ketegaran disana.
“Ibu, baik-baik saja, nak”ucap ibu lirih.
“Enggak.Ibu bohong..Ibu pasti lagi sakit kan?”
“Nak, mungkin ibu hanya kecapaian saja, sudah jangan dibuat sedih seperti itu.”
“Bagaimana nggak sedih,bu.Ibu membuat Ifi khawatir.”
“Iya.Maafkan ibu, nak, jika ibu membuat kamu khawatir.Dek Reni dan Dek Riza mana?”
“Oh, baru diajak pak Zainal dan Bu Aisyah keluar, bu”
“Oya, sudah”
Tak berapa lama, pak Zainal, Bu Aisyah dan kedua adikku datang.Juga seorang gadis mungil, ya, itu Meydi.
“Bu, kata dokter ibu terlalu kecapaian.Jadi, disuruh beristirahat dulu saja.”Bu Aisyah berkata dengan nada menenangkan.Kulihat ibu mengangguk dan tersenyum.
“Iya, bu Ais.Maaf ngrepotin, bu.”ucap Ibu.
“Tidak, kami tidak merasa kerepotan, kok, bu, iya kan, pak?”kata Bu Aisyah sambil memandang suaminya, pak Zainal.Pak Zainalpun menyahut.
“Iya, bu.Kita disini sudah seperti keluarga sendiri.Oh, ya kata dokter kalau ibu sudah mulai membaik, ibu bisa kapan saja untuk pulang.”
“Iya, pak Zainal.Kalau bisa, sekarang saja pulangnya.Sudah baik, kok.”Ibuku bersikeras untuk pulang.Tapi, bagaimanapun juga aku masih khawatir bila keadaan ibu masih belum stabil.
“Ya, sudah kalau itu mau ibu.Tadi kata dokter kalau sekarang mau pulang juga tidak apa-apa.”kata Bu Aisyah.
Kami dan keluarga Meydipun beres-beres untuk kembali pulang.Sebelum pulang aku dan ibu sempat bingung bagaimana membayar biaya administrasinya.Tapi, ternyata semuanya telah dibayar oleh keluarga Meydi.Aku dan ibu sampai bingung harus bagaimana membayar semua kebaikan mereka.
***
“Kak Ifi...Reni akan membuat tempe cinta buat Meydi.Meydi kan suka tempe.”
“Hah, apa tadi?tempe cinta?ada-ada saja kamu ini, dek!.Jangan terlalu berimajinasi gara-gara membaca novel Ketika Cinta Bertasbih yang ada bakso cintanya itu.”Aku merasa seakan adikku yang satu ini terlalu mengada-ada.
“Benar, kak.Aku punya inspirasi itu ya dari novel itu.Ayo kak, dicoba.Kalau berhasil kan, oke..”
“Ehm, sebenarnya kakak masih belum percaya denagn ide kamu, dek.Tapi..”belum sempat kumelanjutkan kata-kataku, adikku sudah memotong.
“Udah, ayuk kak.”
Aku dan adikkupun mulai membuat tempe cinta tersebut.Untuk membuat tempenya tidak sulit, karena tempenya hanya seperti tempe biasanya.Tapi, cara membuatnya menjadi bentuk cinta lumayan sulit.Plastik yang akan menjadi pembungkus tempe itu harus dibuat bentuk cinta.Yah, cukup lama.Tapi, jadi juga.Aku dan adikku membuat 2 tempe.Satu untuk Meydi, dan satunya lagi...aku tak tahu.Reni bilang itu menjadi rahasia( ah, terserahlah)
***
“Kak Ifi..!!”seru Reni dari arah pintu.Sedikit cemberut kubukakan pintu untuk adikku.
“Dek Reni, sudah 1000 kali kak Ifi mengingatkan kamu.Jangan teriak!mengerti?”
“Iya.iya..Eh kak, tadi Meydi seneng banget, lho dapat tempe cinta katanya itu kado terindah dihari ulang tahunnya ini.”seru Reni dengan sangat ceria sekali.Ya, Allah terimakasih.Dalam hati aku juga merasakan kegembiraan yang luar biasa.
“Oh, ya?bagus dong..”jawabku sekenanya.Tapi, tiba-tiba aku teringat tentang tempe cinta satunya lagi.
“Dek, tempe yang satunya kamu kemanain?”tanyaku penuh rasa heran.
“Kakak tahu?sebenarnya, kemarin ibunya Meydi ingin sekali pesen tempe ditempat kita,kak..tapi tempenya yang kreatif gitu..katanya buat perayaan makanan tradisional di tempat kerjanya ibunya Meydi.Ya sudah, kak, aku kepikiran tempe cinta itu.Eh, kebetulan Meydi ulang tahun, ya sudah sekalian aja kak buatnya.Terus tadi, waktu melihat sampel tempe cintanya, ibunya Meydi langsung setuju.jadi, yang satunya aku kasihkan ke ibunya Meydi, kak.”Reni menjelaskan dengan panjang lebar.Aku hampir tidak percaya dengan semua ini.Ini semua bagai mimpi.
“Kenapa kamu tidak bilang sama ibu atau kak Ifi, dek?”tanyaku kemudian.
“Soalnya biar buat kejutan, kak.Oh, ya ibunya Meydi mau pesan 100 tempe, kak.Satu tempe mau dihargai Rp.2000,00.Terus, kalau di perayaan nanti banyak yang suka, kita bisa menjadi pembuat tempe tetap di tempat kerja ibunya Meydi.Ibunya Meydi kan kerja di toko makanan tradisional.”
“Ya, sudah, yuk bilang sama ibu.”sahutku kemudian
***
Sejak saat perayaan makanan tradisional itu, banyak orang mengenal tempe kami.Apalagi, tempe cinta.Hingga saat ini pesanan terus saja mengalir.Sehingga, kami harus mempekerjakan beberapa karyawan untuk pembuatan tempe.Kehidupan keluarga kami, jadi lebih baik.
“Ibu, nggak usah terlalu lelah.La wong ada karyawan banyak, kok, bu.”tegurku pada Ibu yang selalu saja memaksakan diri untuk membuat tempe.Aku takut ibu akan sakit lagi.
“Ah, tidak.Ibu tidak sakit.Ibu itu penjualnya.Ya harusnya juga membuat barang dagangannya.”Selalu saja ibu beralasan seperti itu.Tapi, adikku, Reni juga selalu bilang.
“Iya, ya buk e.Kalau tempenya yang membuat bukan ibu.Nanti, tempenya bukan tempe cinta namanya..”
Ya, Allah terimakasih, Engkau telah memberikan semua kenikmatanmu pada kami.Ibu, kedua adikku, dan ayah yang tenang dialam sana.
***
 
catatanku-amelia Blogger Template by Ipietoon Blogger Template