Jumat, 04 Desember 2015

Manusia dan Kepentingan- kepentingannya

 
favim.com

Di suatu sore yang kebetulan ibukota sedang dibungkus mendung.

                Saya dan seorang teman duduk di kursi- kursi di depan sebuah tempat nongkrong kecil di Jakarta. Menunggu seseorang untuk keperluan wawancara. Bukan, kami bukan reporter bayaran stasiun tv ataupun radio manapun. Kami adalah mahasiswa baru yang sedang semangat- semangatnya mendaftar salah satu ukm di kampus. Sebenarnya yang mendaftar saya, teman yang duduk di samping saya hanya menemani. Kebetulan tugas oprecnya adalah wawancara salah satu tokoh mahasiswa kampus. Dan saya sangat menyukai tugas seperti itu.

                Beberapa saat kami menunggu akhirnya kakaknya- yang akan kami wawancarai- itu datang. Menyapa teman- temannya yang kebetulan ada di kursi- kursi sebelah kami. Lalu menyapa kami. Duduk. Wawancara yang lebih tepatnya bincang- bincang antara kami dimulai.

Kata pertama yang keluar dari mulut adalah perkenalan diri saya yang segera dipotong oleh beliau dengan “ iya, sudah tau kok, sudah tau” dan kami langsung tertawa tanpa negosiasi. Detik itu satu kesimpulan yang dapat saya ambil bahwa orang hebat selalu bisa memulai suasana dengan keren. Saya dan teman saya selanjutnya larut dalam perbincangan seru kali itu. Saya melontarkan banyak sekali pertanyaan dari personalnya hingga kesibukannya. Dari yang pertanyaan sangat penting sampai pertanyaan ‘mas, merasa popular?’ pun tak luput dari rasa penasaran saya bertanya.

Senin, 02 Februari 2015

Mereka anggap cinta itu apa?


Saya                  : ‘mb, dari kalian berlima yang jomblo siapa?’
Mb Susi             : ‘Cuma satu dek, itu yang kemarin shift sama kamu, namanya Ika’
Saya           : ‘Ha? Jadi empat sisanya statusnya berpacaran? Termasuk mbaknya?’ (polos nih ceritanya)
Mb Susi             : ‘iya dek. Kenapa?’
Saya           : (nelen ludah-yang hampir meler-ke bawah) ‘yaampun mb, kebalikan kita dong (kelompokku) kita yang ngga jomblo cuma satu hehe, itu mb si Anggun.
Mb Susi              : ‘ha? Serius?’
Saya                 : ‘iya mb, emang dari dulu tumbuhnya di lingkungan mayoritas jomblo mb. Jomblo bahagia sih bukan ngenes.’(nyengir- cari pembelaan- tapi munafik- gapapa- yang penting nggak keliatan- ngenes aslinya)
                Tiba tiba throwback ke masa masa sekolah dulu. Di kelas itu anak perempuannya sekitar 18-20 orang. Dan seingat saya, yang punya ‘teman special’ sih sekitaran satu, dua, tiga, bisa dihitung lah. Ngga pernah lebih dari empat ataupun lima.Yakin. Jadi ketika jomblo menjadi mayoritas, everything is gonna be okay (y). Kenapa bisa sebegitu nelangsanya? Selain karena faktor bertepuk sebelah tangan, kenyang dimakan teman, pungguk menggapai bulan, ya biasalah, mayoritas dari kita kan memang orientasi sekolah ya belajar, masih polos, selalu kalem, tapi suka baper kemana mana wkwk.
                Lagian mereka yang ngakunya menjalin hubungan (re: pacaran), sepengamatan saya kebanyakan hanyalah cinta monyet- cinta anak remaja yang baru hitungan minggu bahkan hari si cowo nembak- cewenya mau- jalan- tebar mesra di dunia maya- kalo si cowo ultah, cewe nya foto sambil pegang tulisan HBD- lalu tiba tiba ada masalah- and finally putus lewat sms. Yah, itu baru yang namanya ngenes asli. Dan pengamatan saya belum berhenti disitu. Ngga jarang juga mereka (yang tertakdir selalu menarik hati wkw) dengan mudahnya move on ke lain hati, setelah hubungan mereka sebelumnya kandas. Ada lho yang selama tiga tahun SMA terkabar berpacaran dua kali, tiga kali, yaelah tiap naik kelas ganti gitu? :””

Mereka anggap cinta itu apa?

                Ada juga beberapa teman yang berpacaran beda agama. Kalo itu script untuk film sih mungkin bisa populer. Nah ini? Ini dunia nyata. Ngga se indah ending sebuah film romansa. Kalo masing masing jalan bareng sih bisa, tapi memutuskan bergandengan tangan untuk mencapai satu arah tujuan? Itu ngga bisa. Kalo kata mereka sih ‘jalanin aja dulu’, yaampun :””

Mereka anggap cinta itu apa?

                Ada juga yang habis putus eh malah serasa musuhan aja sama mantan haha. Malah jadi saling ngga sudi melihat apalagi menyapa. Mungkin putusnya dengan tidak baik baik. Nah dulu yang sukanya bilang cin, yang, beb, kemana? Dulu yang paling rajin ngingetin makan kemana? Yang sering ngucapin selamat pagi siang sore malem kemana? Lalu semua itu sedemikian mudahnya menjadi hal sia sia sekarang? Indonesia-Belanda yang dulu musuh berabad abad aja bisa akur, kalian kapan? Haha :””

Sekali lagi, mereka anggap cinta itu apa?

Kalo yang namanya cinta itu menguatkan, maka kalian akan kuat untuk saling menunda segalanya. Tak akan berkhianat, sekalipun terpisahkan oleh jarak dan waktu.
Kalo kata mbak mbak yang aku lupa namanya itu,’cinta yang baik adalah cinta yang tak membuat kita selalu khawatir mengingatnya. Apalagi jika sampai mengganggu ibadah kita? Lupakan, dia bukanlah cinta yang baik’
                Ngga perlu resah kawan, karena Allah telah mempersiapkan dia yang kita inginkan dengan baik. Dengan cara yang baik. Bukan dengan galau dan baper tak berkesudahan wkwk.
                Dan semua yang saya paparkan diatas bukan berarti saya iri. Tapi karena saya sedikit bingung lalu mempertanyakan. Mereka anggap cinta itu apa? semua definisi yang tercermin lewat kelakuan mereka benar-benar.. kurang tepat :(
Memangnya kita apaan dengan mudahnya dimiliki orang. Memangnya kita apaan dengan mudahnya menerima yang pernah dimiliki orang. Astagaaa.

Mereka anggap cinta itu apa.


               
               
               
               
               

Selasa, 04 November 2014

November, Dingin, dan Hujan

Selamat pagi November.
Jangan risau, dingin dan hujan menemanimu di sini.
Bersama mereka menari. Di sini. Di dekat jendela penghubung ruang.
Bersama mereka bernyanyi. Menghapus segala sedih dan ketidakmungkinan.

Selamat pagi November.
Jangan khawatir, dingin dan hujan menghampirimu di sini.
Menggenggam erat segala kebahagiaan dan kemungkinan.
Lalu menaruhnya di sini. Di sela sela selimut dan tatapan.
Tak kan berkhianat.
Selalu ada persimpangan.
Bukan jalan buntu yang menghadang.
Selalu ada kabar baik.
Bukan kabar buruk yang mencemaskan.

Sekali lagi selamat pagi November.
Jangan bimbang. Akan selalu ada payung dan daun pisang jika ingin berteduh nanti.
Berjalanlah dengan baik. Genangan air tak akan nakal. Asal memakai sandal dan hati hati.

Sekali lagi jangan bimbang. Dingin dan hujan akan selalu baik hati

Rabu, 29 Oktober 2014

Ketika Saya Harus Terbangun

Sebuah quote menarik yang saya dapatkan di acara DMP 2

"hal yang tidak mungkin di dunia ini hanya ada dua, hidup selamanya dan makan kepala sendiri. Selebihnya masih mungkin" kak Wilson Mario, menko eksternal bem km ugm 2014

Ternyata umur 18 sudah cukup untuk mengerti quote tersebut. Lucu saja saya tidak pernah berpikir seperti itu sebelumnya. Pesimis ternyata lebih mendominasi semua bagian kepala saya. Payah. 

Penyesalan terjadi. Miris ya. 

Kemana saja saya selama ini? Membiarkan rasa payah itu menang begitu saja.

Kemana saja saya selama ini? Tak pernah berkutik, membiarkan semua hal berlalu tanpa kendali.

Kemana saja saya selama ini? Banguuuun nak, banguuuun.

Lagi lagi saya baru sadar. Masih banyak hal disini dan disitu yang belum kita kerjakan. Masih panjang belokan jalan yang belum kita lalui. 

Banguuuun!


Jumat, 13 Desember 2013

Koruptor (puisi)



Koruptor
Oleh : Amelia Rizki S. XIIA2. 03

Mengabdi untuk rakyat, katanya

Bekerja demi negara, katanya

Peluh peluh di dahi, capai tiada henti, hanya demi rakyat, katanya


Lalu koran koran pagi berbicara

Menyeruak tentang busuknya orang orang pengabdi negara

Tentang mereka yang makan harta orang orang tak berdosa

Berjuta juta? Lebih. 

Tak penting, lebih sakit hati rakyat yang telah ditipu dan dibohongi


Koran koran pagi berbicara lagi

Berbicara hal yang sama, orang yang berbeda


Dan rakyat pun semakin tak mengerti.
 
catatanku-amelia Blogger Template by Ipietoon Blogger Template